Ulasan berita Indonesia dan internasional dari peristiwa, politik, teknologi, berita unik, dan hiburan

loading...

Tuesday, May 30, 2017

Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan

Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan - Hallo Pembaca Portal Berita, Berita kali ini adalah Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan, Berikut ini artikelnya.

lihat juga


Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan

Presiden RI pertama Soekarno harus melalui perjuangan berat untuk kemerdekaan Indonesia. Dia beberapa kali diasingkan, salah satunya ke Ende, Flores.

Dikutip dari buku Jejak Soekarno di Bandung, pembuangan Soekarno ke Ende, Flores itu dilakukan pemerintah kolonial Belanda melalui dekrit nomor 2z. Dekrit tersebut diterbitkan pada 28 Desember 1933. Keputusan nasib Bung Karno tersebut disampaikan secara khusus oleh Mr Thomas, utusan Belanda dari Batavia.

Sebelum mengumumkan keputusan pembuangan kepada Soekarno, Thomas terlebih dahulu mengunjungi Inggit Ganarsih --istri kedua Soeka rno-- di kediamannya. Kemudian pergi bersama-sama ke penjara Sukamiskin, Bandung tempat Soekarno ditahan.

"Dia (Thomas) tidak berlama-lama di rumah kami. Dia ajak kami ke Sukamiskin untuk menyampaikan kabar itu kepada Kusno," kenang Inggit dalam buku Kuantar ke Gerbang - Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno karya Ramadhan KH.

Setelah mendengar pengumuman bahwa ia harus menjalani penghapusan Ende, Soerkarno juga meminta Inggit Ganarsih dalam bahasa. " Bagaimana Inggit, Aren, yang harus diikuti? (Bagaimana Inggit, Aren, akan datang)?"

Sebagai istri, Inggit Ganarsih dengan sigap menyampaikan kesediaan mendampingi suaminya menjalani pembuangan di mana pun. Sebelum meninggalkan tanah Parahyangan, Inggit menjual semua hartanya. Term asuk harta milik Ny Amsi, ibunda Inggit Ganarsih di Jalan Java Veem. Rumah tersebut tempat Bung Karno dan Inggit melangsungkan pernikahan.

1. Kesedihan Bung Karno
Lebih dari 11 tahun Soekarno tinggal di Tanah Parahyangan, sejak pertama kalinya menginjakkan kaki di Kota Bandung untuk melanjutkan sekolah di Technische Hogeschool (TH) Bandung.

Tetapi karena isolasi, Bung Karno harus meninggalkan tanah PAUS sejuk dan indah. Dia tidak tahu kapan aku bisa kembali lagi. Untuk Bung Karno , tanah PAUS terlalu indah untuk dikenang.

Di daerah yang sebagian besar penduduknya etnis Sunda ini Bung Karno mendapatkan sapaan 'Singa Podium'. Sapaan itu disematkan masyarakat Parahyangan kepada Soekarno melalui perjalanan awal dalam karier politiknya.

Namun sayangnya ketika harus menjalani pembuangan di Ende, Soekarno tidak sempat menyampaikan salam perpisahan kepada para pendukung sekaligus pengagumnya. Soekarno langsung dibawa ke Stasiun Bandung dari Penjara Sukamiskin.

Pada pagi itu, Kereta Api Bandung - Surabaya sudah siap membawa para penumpangnya ke tempat dituju. Bung Karno ditempatkan di salah satu gerbong dengan pengawalan ketat dari polisi Belanda.

Sementara itu, Inggit Ganarsih beserta ibunya, Ny Amsi dan putri angkatnya Omi alias Ratna Juami serta dua orang pembantunya Muhasan dan karmini berada di gerbong terpisah.

Dari Surabaya, perjalanannya dilanjutkan dengan kapal laut menuju Ende, sebuah tempat yang sangat jauh dari tanah Parahyangan di sebuah pulau yang belum dikenal sama sekali oleh Bung Karno dan Inggit Ganarsih.
RSS Feed

RSS to Email Formatted

IFTTT


Itulah Berita Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan

Sekian berita tentang Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua

Anda sedang membaca artikel Cerita Pilu Bung Karno Tinggalkan Tanah Parahyangan dan artikel ini url permalinknya adalah https://beritahubulat.blogspot.com/2017/05/cerita-pilu-bung-karno-tinggalkan-tanah.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.